PERBEDAAN
TINGKAT AGRESIVITAS PADA SISWA SMU MUHI YOGYAKARTA BERDASAR POLA ASUH DAN
JENIS
PEKERJAAN ORANG TUA
Hanif1
1 Dosen
FTDI Uiniversitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
Abstract
This research aims at examining the difference of aggressiveness in students Senior High School of First Muhammedan (SMU MUHI) Yogyakarta from parent’s rearings and parent’s jobs. It based on phenomenons, such increase of fights along students, behaviors of students less polite to teachers, and others, especially that occurs in Yogyakarta. It indicated of aggressive behaviour. It may be caused of not right of parent’s rearings, and parent’s rearings has correlation with parent’s jobs. From these phenomenons, reseacher want to investigated about difference of aggressiveness in students Senior High School of First Muhammedan from parent’s rearings (authoritarian, democratic, and permissive) and from parent’s jobs (entrepreneur, official civil servant/PNS, and military) point of view to aggressiveness.
Two hypotheses tested are as follows: (a) that there is a difference of agressiveness in students Senior High School of First Muhammedan (SMU MUHI) have parents tendency to authoritatif, democratic, and permissive, and b) that there is a difference of agressiveness in students Senior High School of First Muhammedan (SMU MUHI) have parents as entrepreneur, official civil servant, and military.
Subjects of the research include seventy six students of first class and sixty seven students of second class in Senior High School of First Muhammedan (SMU MUHI), Yogyakarta and their parents, totally is one hundred and sixty person. The two instruments administered in data gathering (quantitative data) include parent’s rearings scale for students’ parent (within there was a identity of parent’s job), agressiveness scale for students, and interview (qualitative data).
Variance analysis 2-stripes (Anava 2-jalur) were applied to analyze the data. The outcome shows the following: (a) there is a significant difference of three parent’s rearings to bring about aggressiveness with F=366.479, standar error p=0.000, and difference average is: authoritarian=69.344; democratic=79.283; permissive=87.862. (b) there is not a significant difference of three parent’s jobs to bring about aggressiveness with F=0.054, standar error p=0.583, and difference average is: entrepreneur=77.632; official civil servant=76.436; military=76.960. From the result of parent’s rearings appeared that permissive is the most influential from all (authoritarian and democratic) to bring about aggressiveness in students of Senior High School of First Muhhammedan, Yogyakarta, and parent’s rearings hasn’t influence to bring about children’s aggressiveness.
Key Words: Parent rearings, Parent jobs, Aggressivity
Pendahuluan
Kesadaran akan pentingnya pengelolaan aspek-aspek
psikologis dewasa ini semakin meningkat. Ini terindikasikan dari banyaknya
seminar, diskusi, bahkan training yang dilaksanakan oleh beberapa lembaga
tertentu seperti training Manajemen Qalbu (Hernowo, 2002: 8),
training Emotional Spiritual Quotient (ESQ) Leadership (Agustian,
2002: xxxviii), dan sejenisnya. Pengelolaan aspek-aspek psikologis ini tentunya
bertujuan dalam rangka menangani penyakit-penyakit psikis yang belakangan
banyak muncul. Penyakit-penyakit psikis ini, seperti stress dan frustasi yang
merupakan stimulus/emosi terkondisikan, akhirnya dapat menyebabkan munculnya
tingkah laku agresif (Koeswara, 1988:15).
Penyakit-penyakit seperti ini biasanya terjadi pada
siswa-siswi yang mulai menginjak remaja. Keinginan untuk menunjukan eksistensi
dirinya dan pencarian jati diri kadang membuat mereka berperilaku ‘over’
yang bisa membahayakan diri mereka atau orang lain. Banyaknya orang tua yang
sibuk mengurusi pekerjaan dan bersikap bebas, sering melupakan perkembangan
psikis (emosi) anak. Anak kemudian cenderung agresif untuk meluapkan semua
keinginannya, karena merasa tidak ada yang melarang dan membimbing mereka.
Pola asuh yang tepat akhirnya menjadi faktor yang penting
dalam pendidikan anak. Menurut Baumrind (1971: 178), pola asuh pada prinsipnya
merupakan parental control (kontrol orang tua). Kohn (1971: 124) juga
menyatakan bahwa pola asuh merupakan cara berinteraksi antara orang tua dengan
anaknya, yang meliputi pemberian hukuman, hadiah, dan pemberian perhatian serta
tanggapan terhadap perilaku anak. Demikian pula diungkapkan Hadinoto (1979: 78)
bahwa peranan dan bantuan orang tua kepada anak akan dapat tercermin dalam pola
asuh yang diberikan kepada anak.
Tujuan pola asuh menurut Hurlock (1973: 134) adalah untuk
mendidik anak agar dapat menyesuaikan diri dan diterima oleh lingkungan
masyarakatnya (sosial). Bila anak menunjukkan perilaku agresif, yang tentunya
mengganggu lingkungan sekitarnya sehingga menyebabkan anak merasa terisolasi
oleh lingkungannya, maka dapat dikatakan bahwa anak tersebut tidak dapat
menyesuaikan diri dan tidak diterima oleh lingkungannya. Dengan demikian,
pentinglah kiranya pola asuh orang tua yang tepat agar anak dapat mengendalikan
perilaku agresifnya.
Pola asuh yang tepat menjadi sangat penting karena anak
akan belajar sesuatu yang diinginkan dan diharapkan oleh masyarakat, sehingga
anak dapat mengendalikan perilakunya. Orang tua sebenarnya juga sadar bahwa
orang tua akan dianggap baik jika bisa mendidik anak dengan sebaik-baiknya.
Tetapi terkadang karena kesibukan orang tua, misalnya orang tua (ayah dan ibu)
sama-sama bekerja maka pola asuh yang diterapkan mempunyai porsi yang sedikit
atau bahkan terabaikan sama sekali. Sebagian orang tua beranggapan bahwa anak
sudah bisa memilih dan menentukan sesuatu sendiri. Kebebasan yang longgar
diberikan kepada anak untuk memilih dan melakukan sesuatu sesuai keinginannya.
Mereka beranggapan bahwa kebutuhan anak
bisa dicukupi dengan materi atau lebih khusus lagi bisa dipuaskan dengan uang.
Sementara kebutuhan anak tidak hanya berupa materi tetapi aspek psikis anak
juga perlu diperhatikan. Maka penerapan pola asuh yang dianggap tepat dan cocok
dengan sendirinya akan menghasilkan anak-anak yang berkembang menuju dewasa
dengan baik pula.
Dalam penerapan pola asuh ini, juga berkaitan erat dengan
jenis pekerjaan orang tua. Pola asuh merupakan salah satu hal penting yang
harus diperhatikan orang tua sebagai suatu kebutuhan untuk mengembangkan
kemampuan anak. Sementara itu untuk memenuhi kebutuhan dalam kehidupannya tidak
bisa lepas dari masalah pekerjaan. Menurut Maslow (dalam Manulang,1991: 94),
kerja merupakan suatu cara untuk memuaskan kebutuhan secara bertingkat yang
mempunyai fungsi ganda. Fungsi kerja yang pertama adalah untuk memperoleh sumber
daya yang biasanya berupa materi (uang) guna memenuhi kebutuhan. Fungsi kedua
berhubungan dengan kedudukan atau peran sosial seseorang dalam masyarakat.
Jenis pekerjaan tertentu akan berpengaruh secara
psikologis terhadap pola asuh yang diterapkan. Berhubung pekerjaan dianggap
sebagai mata pencaharian bagi setiap individu, maka tak urung bila seseorang
(orang tua) merasa sukses dalam suatu pekerjaannya ia akan menunjukkan reinforcement
(penguat) yang baik, yang salah satunya ditunjukkan dalam penerapan pola asuh,
misalnya dengan memberikan keleluasaan penuh kepada anak (permisif).
Sebaliknya, bila seseorang (orang tua) merasa tidak sukses dalam suatu
pekerjaannya ia akan menunjukkan reinforcement yang kurang baik pula
diantaranya dengan menunjukkan sikap yang sewenang-wenang kepada anak
(otoriter).
Berdasar pemaparan di atas nampak bahwa kecenderungan
pola asuh yang diterapkan orang tua dan jenis pekerjaan orang tua itu sendiri
dapat mengendalikan perilaku anaknya, termasuk mengendalikan perilaku agresif.
Dapat dilihat juga bahwa pola asuh orang tua mempunyai hubungan dengan jenis
pekerjaannya, karena pola asuh merupakan salah satu kebutuhan yang harus
dipenuhi orang tua. Dalam jenis pekerjaan orang tua ini dapat dilihat apakah
orang tua mempunyai aturan dalam mendidik yang ketat dan keras atau kelonggaran
dalam mendidik. Misalnya jenis pekerjaan orang tua yang militer akan menerapkan
disiplin dan aturan yang ketat dalam mendidik anaknya, sementara orang tua yang
jenis pekerjaannya wiraswasta akan menerapkan pola asuh yang tidak ketat.
Selain itu secara sosial, jenis pekerjaan juga mempunyai hubungan agresivitas
karena harapan orang tua dalam membimbing dan mendidik anak adalah supaya anak
diterima oleh masyarakat. Hasil didikan itu bisa dilihat dari perilaku anaknya.
Dalam pola asuh, untuk mendidik dan memelihara anak, kebutuhan materi dan moril
merupakan hal yang penting. Kebutuhan materi berhubungan dengan jenis pekerjaan
orang tua, sedangkan kebutuhan moril berhubungan dengan pola asuh atau
pendidikan yang diterapkan orang tua.
Dengan demikian, pola asuh dan jenis pekerjaan orang tua saling dapat
mempengaruhi dalam peningkatan atau penurunan agresivitas anak.
Munculnya fenomena seperti perkelahian antar siswa,
perampokan yang dilakukan oleh siswa di beberapa daerah di Indonesia, khususnya
di Yogyakarta dewasa ini semakin marak. Di Yogyakarta, para siswa SMU
seringkali berkelahi antar sekolah ataupun antar kelas karena masalah-masalah
sepele. Laporan terakhir menyatakan bahwa salah seorang siswa SMU Muhamadiyah I
melakukan penyerangan ke salah satu SMU swasta di Yogyakarta sehingga
mengakibatkan meninggalnya salah satu siswa SMU tersebut (Kedaulatan Rakyat,
2002:1). Hal ini juga diperkuat oleh laporan dari kepala sekolah dan wakil
kepala sekolah bagian hubungan masyarakat
(humas) pada saat penulis observasi yang secara tidak langsung
menyatakan bahwa SMU MUHI saat ini lagi disorot karena peristiwa kekerasan yang
baru terjadi.
Itu semua merupakan fenomena-fenomena yang
mengindikasikan perilaku agresif, sebagaimana dikemukakan Moore dan Fine
(Verawati, 2001: 25) bahwa tingkah laku agresif merupakan tingkah laku
kekerasan secara fisik ataupun verbal terhadap individu atau terhadap objek.
Demikian pula berdasar laporan biro konsultasi psikologi UGM yang dilakukan Haryanta
(2000: 30) didapatkan bahwa beberapa kasus remaja adalah masalah hubungan
interpersonal sehingga menimbulkan pertentangan (konflik) antar individu yang
merupakan indikator dari tingkah laku agresif pula.
Agresivitas
merupakan kecenderungan manusia untuk melakukan agresi. Agresi umumnya
diartikan sebagai segala bentuk tingkah laku yang disengaja, yang bertujuan
untuk mencelakakan individu atau benda-benda lain. Menurut Moore dan Fine
(dalam Verawati, 2001: 34) tingkah laku agresi adalah tingkah laku kekerasan
secara fisik atau verbal terhadap individu atau objek. Aronson (1972: 105)
menambahkan bahwa agresi adalah tingkah laku yang dimaksudkan untuk melukai
orang lain, baik dengan tujuan ataupun tanpa tujuan. Menurut Baron dan Byrne
(1991: 142), perilaku agresif adalah segala bentuk perilaku yang disengaja
untuk melukai orang lain dan ada usaha dari orang yang dilukai atau yang
diserang untuk menghindar atau melawan. Tingkah laku agresi tidak hanya
ditujukan kepada makhluk hidup, tetapi juga bisa ditujukan kepada objek lain
yang dianggap sebagai sumber kesulitan yang menyebabkan frustasi (Gunarsa,
1980: 86). Agresi juga bisa berupa serangan terhadap sumber yang dianggap
ancaman (Lazarus, 1976: 214). O Neal (Perlman dan Cozby, 1983: 91)
mengungkapkan bahwa agresi adalah tingkah laku yang ditujukan untuk
mencelakakan pihak lain.
Buss (1973: 79)
telah menguraikan bentuk-bentuk tingkah laku agresi ke dalam dua bentuk yaitu:
agresi fisik, misalnya memukul seseorang tanpa sebab; dan agresi verbal,
misalnya memaki seseorang. Di samping bentuk-bentuk di atas, adapula
bentuk-bentuk agresi lainnya sebagaimana dikemukakan Berkowitz (1995: 98) yang
menekankan pada tujuannya yaitu meliputi: (a) hostile aggression (agresi
benci), yaitu melampiaskan keinginan untuk melukai atau menyakiti (tanpa
tujuan), sehingga efeknya adalah terjadinya kerusakan, kesakitan, dan kematian
pada sasaran atau korban.; dan (b) instrumental aggression (agresi
instrumental), yaitu bentuk agresi yang dilakukan sebagai alat atau cara untuk
mencapai tujuan tertentu, misalnya mahasiswa yang berbuat anarki dengan
membakar gedung-gedung dimana maksudnya bukan membakar gedung tetapi untuk
menurunkan presiden dari jabatannya.
Pola asuh
menurut Baumrind (1971: 178) pada prinsipnya merupakan parental control (kontrol
orang tua). Kohn (1971: 147) menyatakan bahwa pola asuh merupakan cara orang
tua berinteraksi dengan anaknya, yang di dalamnya meliputi pemberian aturan,
hadiah, hukuman, dan pemberian perhatian serta tanggapan terhadap perilaku
anak. Adapun Hadinoto (1979: 79) mengemukakan bahwa pola asuh yang diberikan
akan tercermin dari peranan dan bantuan orang tua kepada anak.Tujuan pola asuh
menurut Hurlock (1973: 251) adalah untuk mendidik anak supaya anak dapat
menyesuaikan diri terhadap lingkungan sosialnya atau dapat diterima oleh
masyarakat. Pola asuh sangat penting bagi anak, karena anak dapat belajar
tentang sesuatu yang hasilnya akan dapat diharapkan oleh masyarakat sekitarnya.
Pola asuh juga akan berpengaruh dalam
perilaku anak. Ada tiga jenis pola asuh yang banyak digunakan para orang
tua yaitu: authoritarian, authoritative, dan permissive.
Authoritarian mempunyai ciri-ciri di antaranya adalah: orang tua bertindak
tegas, suka menghukum, kurang memiliki kasih sayang, kurang simpatik, suka
memaksa anaknya untuk patuh terhadap aturan-aturan, berusaha membentuk tingkah
laku serta cenderung mengekang keinginan anak. Orang tua jarang memberikan
pujian dan tidak mendorong untuk mandiri, hak anak sangat dibatasi sementara
anak dituntut untuk mempunyai tanggung jawab sebagaimana dengan orang dewasa.
Anak harus tunduk dan patuh pada orang tua sementara orang tua sering
memaksakan kehendak kepada anaknya. Kontrol terhadap perilaku anak sangat
ketat, sering menghukum anak dengan hukuman fisik. Akibatnya, orang tua
cenderung banyak mengatur kehidupan anak. Authoritative bercirikan: hak dan
kewajiban antara anak dan orang tua seimbang, mereka saling melengkapi antara
satu dengan lainnya. Orang tua sedikit demi sedikit mulai melatih tanggung
jawab dan menentukan tingkah laku anak itu sendiri menuju kedewasaannya. Dalam
melakukan tindakan, orang tua selalu memberikan alasan kepada anak dan
bertindak obyektif serta mendorong anak untuk saling membantu. Orang tua
cenderung tegas tetapi juga hangat dan penuh perhatian, akibatnya anak akan
tampak ramah, kreatif, dan percaya diri, mandiri, bahagia serta memiliki
tanggung jawab sosial yang tinggi. Orang tua juga bisa bersikap bebas dan
longgar, tetapi masih dalam batas-batas normal. Adapun pola asuh permisif
mempunyai ciri-ciri: orang tua memberikan kebebasan seluas mungkin kepada anak.
Ibu memberikan kasih sayang yang banyak dan bapak bersikap sangat longgar. Anak
tidak dituntut untuk belajar bertanggungjawab, anak diberi hak yang sama dengan
orang dewasa. Anak diberi kebebasan yang seluas-luasnya untuk mengatur dirinya
sendiri. Orang tua tidak banyak mengatur dan
mengontrol, sehingga anak diberi kesempatan untuk mandiri dengan
menyeimbangkan kontrol internalnya sendiri (Baumrind, 1971: 199).
Kehidupan
manusia sehari-hari tidak dapat dipisahkan dengan masalah pekerjaan. Bekerja
merupakan salah satu wujud dari aktifitas fisik dan mental. Kerja menurut
Maslow (dalam Manulang,1991: 203) merupakan suatu cara untuk memuaskan
kebutuhan secara bertingkat yang mempunyai fungsi ganda (dua fungsi). Fungsi
yang pertama dari kerja adalah untuk memperoleh sumber daya atau penghasilan,
yang biasanya berupa uang (materi) guna memenuhi kebutuhan; dan fungsi kedua
berhubungan dengan kedudukan dan peran sosial seseorang dalam masyarakat. Pendapat
ini diperkuat oleh Straus dan Sayles (dalam Andamari,1996: 23) yang menyatakan
bahwa dengan bekerja seseorang akan memperoleh kepuasan dalam memenuhi
kebutuhan fisik, sosial, psikis, dan rasa aman. Tanpa pekerjaan, seseorang akan
mengalami kesulitan-kesulitan dalam menghadapi kehidupan, termasuk kesulitan
dalam memenuhi kebutuhan untuk mendidik dan membimbing anak. Senada dengan
pendapat tersebut, Blum (1995: 107) menyatakan bahwa kerja merupakan suatu
bentuk aktifitas yang didukung oleh masyarakat (sosial) yang berbentuk pada
penghargaan masyarakat atas aktifitas kerja, fungsi pekerjaan tersebut bagi
masyarakat, dan dukungan dari diri sendiri berupa pencapaian tujuan. Dorongan
yang melatar belakangi pekerjaan bisa berupa kebutuhan untuk aktifitas masyarakat,
dorongan untuk menghasilkan sesuatu, memberi manfaat, mencapai prestise
tertentu, memperoleh kekuasaan, serta pengakuan dan penghargaan dari orang
lain.
Berkaitan dengan
status dan berbagai dimensi yang terdapat dalam pekerjaan, maka jenis pekerjaan
yang banyak dilakukan oleh masyarakat kebanyakan di Indonesia dapat
dikategorikan pada enam jenis pekerjaan, yaitu: karyawan perusahaan swasta,
wiraswasta, buruh, tani, ABRI, dan
pegawai negeri sipil (PNS).
Hipotesis yang
diajukan adalah bahwa: (a) terdapat perbedaan tingkat agresivitas pada siswa
SMU berdasar pola asuh orang tua, di mana pola asuh otoriter berpeluang lebih
besar untuk menimbulkan perilaku agresif dibanding dengan pola asuh demokratis
dan permisif; dan (b) terdapat perbedaan tingkat agresivitas pada siswa SMU
berdasar jenis pekerjaan orang tua, di mana jenis pekerjaan militer berpeluang
lebih besar untuk dapat menimbulkan perilaku agresif dibanding dengan jenis
pekerjaan sebagai wiraswasta dan PNS.
Metode Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMU
Muhammadiyah Satu (MUHI) laki-laki dan perempuan, kelas I dan II, berusia
antara 15-18 tahun, berdomisili bersama
orang tua; dan para orang tua siswa yang bersangkutan dari berbagai usia dan
berbagai jenis pekerjaan. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode stratifaid
random sampling, di mana populasi terdiri dari golongan-golongan yang
mempunyai susunan bertingkat atau berkelas (Hadi, 2000: 225), dan jumlah siswa
dari kedua tingkatan kelas ini adalah 40% dari kelas I dan 40% dari kelas II,
yaitu sebanyak 160 siswa. Sampel untuk para orang tua yang akan diberikan
angket pola asuh, sesuai dengan banyaknya siswa yang dijadikan sampel, yaitu
sebanyak 160 orang.
Data diperoleh dengan cara observasi, penyebaran angket
(kuesioner), dan wawancara. Observasi yang dilakukan penulis adalah
observasi nonsistematik, yaitu observasi yang dilakukan tanpa mempersiapkan dan
membatasi kerangka yang akan diamati (Hadi dan Haryono, 1998: 132). Skala yang
digunakan ada dua yaitu skala agresivitas, yang mengacu pada teori agresivitas
Buss (1973:79) dan skala pola asuh yang mengacu pada teori Hurlock (1973: 243).
Sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan, teknik analisis yang digunakan adalah
teknik analisis variansi 2-jalur.
Hasil dan
Pembahasan
Setelah melakukan uji prasyarat analisis variansi
2-jalur, yaitu normalitas sebaran dan homogenitas variansi diperoleh
temuan-temuan sebagai berikut:
1.
Terdapat perbedaan yang sangat signifikan tingkat
agresivitas pada siswa SMU MUHI Jogjakarta berdasarkan pola asuh orang tuanya,
di mana pola asuh permisif berpeluang paling tinggi dibanding pola asuh
otoriter dan demokratis untuk menimbulkan perilaku agresif. Hasil ini didukung
dengan hasil wawancara terhadap orang tua siswa, dan mereka yang secara
kuantitatif berskor tinggi (berpola asuh permisif) ternyata terbukti anaknya
memiliki tingkat agresivitas yang tinggi (berdasar skor agresivitas yang
diperoleh). Skor menunjukkan rerata untuk masing-masing pola asuh adalah:
otoriter = 69,344; demokratis = 79,283; dan permisif = 87,862..Dari skor
terlihat bahwa pola asuh permisif mempunyai peluang besar menimbulkan
agresivitas. Data ini didukung oleh pendapat Baumrind (1971:179) dan Hurlock
(1973:167) yang menyatakan bahwa pola asuh permissif cenderung memberi
kebebasan yang luas kepada anak. Hal ini akan mengakibatkan anak merasa bebas
berbuat sesuai dengan keinginan tanpa ada rasa tanggung jawab dari perbuatannya.
2.
Tidak terdapat perbedaan yang signifikan
dalam tingkat agresivitas pada siswa SMU MUHI Jogjakarta berdasarkan jenis
pekerjaan orang tua. Dengan kata lain, baik orang tua yang berprofesi sebagai
wiraswasta, PNS, dan militer tidak memiliki efek yang berbeda terhadap
agresivitas anak. Inipun didukung oleh hasil wawancara yang dilakukan terhadap
orang tua siswa yang berprofesi sebagai wiraswasta, PNS, dan militer. Dengan
kata lain untuk menentukan tingkat agresivitas pada siswa SMU MUHI Jogjakarta
tidak atau jangan dilihat berdasar jenis pekerjaan orang tuanya. Skor yang
diperoleh juga menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan
berdasarkan jenis pekerjaan orang tua. Rerata skornya adalah :wiraswasta =
77,032; PNS = 76,436; Militer = 76,920.. Menurut Kohn (dalam Ihromi,1999:285)
jenis pekerjaan mempengaruhi pola asuh, sementara pola asuh mempengaruhi
agresivitas. Dengan demikian jenis pekerjaan tidak mempunyai pengaruh langsung
terhadap agresivitas.
Kesimpulan
dan Saran
Berdasar beberapa temuan dan pembahasan di muka, peneliti mencapai kesimpulan sebagai berikut:
1. Terdapat perbedaan yang sangat signifikan tingkat agresivitas pada siswa SMU MUHI Jogjakarta berdasarkan pola asuh orang tuanya, di mana pola asuh permisif berpeluang paling tinggi dibanding pola asuh otoriter dan demokratis untuk menimbulkan perilaku agresif dengan harga F = 366,479 dan peluang galat p = 0,000, serta rerata perbedaan: otoriter = 69,344; demokratis = 79,283; permissif = 87,862.. Hasil ini didukung juga dengan hasil wawancara terhadap orang tua siswa, dan mereka yang secara kuantitatif berskor tinggi (berpola asuh permisif) ternyata terbukti anaknya memiliki tingkat agresivitas yang tinggi (berdasar skor agresivitas yang diperoleh). Dengan demikian dari hasil data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa kecenderungan pola asuh permisif merupakan pola asuh yang harus dikurangi / dirubah agar perilaku agresif pada siswa SMU MUHI Jogjakarta dapat diminimalisir. Dengan demikian hipotesis 1 tidak diterima.
2. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam tingkat agresivitas pada siswa SMU MUHI Jogjakarta berdasarkan jenis pekerjaan orang tua, dengan nilai F = 0,554, nilai peluang galat p = 0,583, serta rerata perbedaan: wiraswasta = 77,632; PNS = 76,436; militer = 76,920.. Dengan kata lain, baik orang tua yang berprofesi sebagai wiraswasta, PNS, dan militer tidak memiliki efek yang berbeda terhadap agresivitas anak. Inipun didukung oleh hasil wawancara yang dilakukan terhadap orang tua siswa yang berprofesi sebagai wiraswasta, PNS, dan militer. Dengan kata lain untuk menentukan tingkat agresivitas pada siswa SMU MUHI Jogjakarta tidak atau jangan dilihat berdasar jenis pekerjaan orang tuanya. Dengan demikian hipotesis 2 juga tidak diterima.
Saran-saran Terapan
1.
Bagi para orang tua seperti halnya yang menjadi subjek
dalam penelitian ini, jangan menggunakan pola asuh yang dianggap kurang efektif
dan efesien. Jenis pola asuh otoriter dan demokratis dapat dijadikan sebagai
bahan pertimbangan dalam setiap langkah mereka, terutama untuk meredam atau
menekan tingkat agresivitas anaknya.
Para orang tua juga harus
memperbaharui diri dari dalam dirinya sendiri (internal), yaitu dengan
cara memperkuat aspek-aspek
psikologisnya terutama yang berhubungan dengan pendidikan, pengajaran dan
pengawasan kepada anak.
2.
Di Sekolah Menengah Umum ( SMU ) sebagai lembaga
pendidikan formal, para guru (khususnya guru bimbingan dan penyuluhan) yang
mendapatkan kliennya (siswa) berperilaku agresif, maka dapat memberikan
pengarahan kepada mereka dengan betul-betul memberikan pemahaman yang bagus
bahwa agresivitas merupakan perilaku yang tidak baik, oleh karenanya
betul-betul harus dihindari. Untuk memberikan pemahaman yang bagus ini tentunya
memerlukan koordinasi yang baik antar guru dan antar teman sebaya. Para guru
harus sepakat saling menjaga hubungan harmonis dan demikian juga antar teman
sebayanya para siswa harus ditekankan pentingnya ukhuwah islamiyah yang
merupakan fondasi kuat dari ajaran Islam. Dengan kata lain, baik guru maupun
siswa harus berusaha semaksimal mungkin menanamkan pentingnya pengembangan
aspek-aspek psikologis seperti pentingnya pengendalian diri dan aspek lainnya.
3.
Para praktisi yang bergerak di lembaga pendidikan
non-formal dapat pula mengarahkan peserta didiknya agar mencapai tingkat
agresivitas yang rendah melalui pengadaan kegiatan-kegiatan psikologis seperti
training-training, untuk menekan agresivitas khususnya para siswa. Mereka juga
jangan menerapkan pendidikan yang keras dan terlalu ketat.
4.
Dalam keluarga, para orang tua dapat mengarahkan sifat
dan sikap yang berpotensial menjadi tindakan agresif anak-anaknya ke arah
perilaku yang positif dan kreatif, misalnya dengan cara membiasakan mereka
untuk bersikap sebagaimana yang terdapat dalam aspek-aspek yang dapat menekan
agresivitas, seperti dengan membiasakan untuk tidak mengumpat orang lain,
mencemooh apalagi memukul orang lain. Orang tua diharapkan tidak memberikan
pola asuh yang terlalu ketat dengan aturan-aturan tetapi juga jangan terlalu
longgar. Bimbingan dan kontrol merupakan salah satu cara efektif untuk menekan
agresivitas dan melatih tanggung jawab.
5.
Bagi para pemegang kebijakan khususnya dalam lembaga
formal misalnya kepala sekolah, agresivitas ini dapat menjadi titik perhatian
penting sebagai pegangan dalam menjalankan setiap aktifitasnya ataupun dalam
setiap pengambilan keputusan yang hendak diputuskan. Jangan membuat kebijakan
atau aturan secara ketat yang bisa
memberikan respon anak didiknya berperilaku agresif.
6.
Saran terakhir dari penulis adalah bahwa untuk
menciptakan generasi yang baik, potensi dan kreatif akan sia-sia tanpa adanya
kerja sama dari berbagai pihak. Oleh karenanya, harus dimulai dengan adanya
pembaharuan dalam sistem pemerintahan, di mana hal ini akan berimbas pula ke
dalam sistem-sistem yang lebih kecil yang berada di dalamnya, termasuk sistem pendidikan. Untuk menciptakan
sistem yang baik ini, maka antar berbagai pihak harus dimiliki sikap
keterbukaan (transparansi), sikap konformitas (pelibatan diri), dan sikap lain
untuk menunjang keberhasilan pendidikan.
Saran-saran Penelitian
1.
Penelitian ini baru dilaksanakan pada siswa SMU, padahal
pendidikan berlangsung di Play Group, Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, SLTP,
SLTA, dan Perguruan Tinggi, maka perlu dilakukan penelitian-penelitian ulang
selain di Sekolah Menegah Umum (SMU). Bahkan lebih luas lagi, penelitian ini
akan sangat menarik bila dilakukan kepada para karyawan, pimpinan perusahaan,
wiraswasta, dan sebagainya.
2.
Variabel penelitian pun perlu diperluas lagi. Guna memperdalam
penelitian, maka pelibatan variabel-variabel lain yang relevan dan belum
menjadi titik perhatian penelitian ini perlu dilakukan misalnya dengan aspek
medis, sosiologis, biologis dan sosial budaya, sehingga penelitian ini akan
lebih mendetail dan bermanfaat.
3.
Metode yang digunakan perlu diperluas dengan menggunakan
metode lainnya misalnya dengan menggunakan metode penelitian eksperiment.
Begitu pula dalam hal teknik analisisnya, perlu dilakukan dengan menggunakan
teknik analisis lain selain teknik yang telah digunakan dalam penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Agustian, A. G., 2002. Rahasia
Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5
Rukun Islam. Jakarta: Arga.
Anastasi, A dan Urbina
,S. 1998. Tes Psikologi. Terj. Hariono S. R, dan Imam, M.A. Jakarta: Prenhallaindo.
Andamari, S. R.,
1996. Intimacy pada Usia lanjut yang
Berbeda Status Kerja dan Tingkat Pendidikan. Skripsi (tidak
diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.
Arikunto, S., 1996.
Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka
Cipta.
Atkinson, R. L.,
Atkinson, R. C., Smith, E. E., dan Bem, D. J., 1997. Pengantar Psikologi.
Batam: Interaksara.
Azwar, S.
2000. Reliabiltas dan Validitas. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Azwar, S. 2000. Penyusunan
Skala Psikologis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Baron, R. A. dan
Byrne, D., 1991. Social Psychology. Understanding Human Interaction. Boston:
Allyn and Bacon Inc.
Baumrind, D. 1971. Current,
Patterns of Parental. Authority
Development-Psychology. Monograph 4 No.1.
Berkowitz, L.,
1995. Agresi, Sebab dan Akibatnya. Terj. Hartati Woro Susianti.
Jakarta: PT Pustaka Binaan Pressindo.
Blum, M. L.,1956. Industrial
Psychology and It’s Social Foundation. New York : Harper Publisher.
Brehm, S. S. dan
Kassin, S. M., 1990. Social Psychology. Boston: Houghton Mifflin
Company.
Buss, A., 1973. Psychology,
Man in Perspective. New York: John Willey & Sons, Inc.
Chaplin, J. P.,
2000. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Clerg, L. D., 1994.
Tingkah Laku Abnormal dari Sudut Pandang Perkembangan. Jakarta:
Grasindo.
Crider, A. B.,
Goethals, G. R., Kavarough, R. D., dan Solomon P. R., 1983. Psychology. California:
Scott, Foresman and Company.
Danisworo, 1996.
Pengaruh Self Esteem Terhadap Kecenderungan Agresivitas Siswa di Kabupaten
Kebumen. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas
Psikologi UGM.
Dodge, K., 1982.
Social Information Processing Variables in The Development of Aggression and
Altruism in Children In C. Zahn-Waxter, M. Cuming, and M. Radke-Yarrow (Ed.). The
Developmental of Altruism and Aggression: Social and Sociobiological Origins. New
York: Cambridge University Press.
Dooley, D., 1995. Social
Research. Third Edition. Engleewood Cliffs. New Jersey: Prentice-Hall,
Inc.
Elfida, D., 1995.
Hubungan Kemampuan Mengontrol Diri dengan Kecenderungan Perilaku Delinkuen. Skripsi
(tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.
Gunarsa, S. D., dan
Gunarsa, Y. S. D., 1996. Psikologi untuk Membimbing. Jakarta:
Gunung Mulia.
Hadi, S., 2000. Statistik.
Jilid 2. Yogyakarta: Andi Offset.
Hadi, S., dan
Pamardiningsih, Y., 2000. Seri Program Statistik versi 2000 (SPS-2000).
Manual SPS Paket Midi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.
Haryanta, 2000.
Studi Eksploratif tentang Profile Klien yang Memanfaatkan Jasa Pelayanan
Psikologis di Biro Konsultasi Psikologi Yogyakarta. Laporan Penelitian. Yogyakarta:
Fakultas Psikologi UGM.
Hadinoto, S.R.
1979. Achivement, Motivation, Parent Education Level And Child Rearing Practice
In Four Ocenfational Group, Disertasi (tidak diterbitkan). Yogyakarta:
Fakultas Psikologi UGM.
Hernowo (Ed), 2002.
Aa Gym dan Fenomena Daarut Tauhid: Memperbaiki Diri dengan Manajemen
Qalbu. Bandung: Mizan Media Utama (MMU).
Hidajati, A., 1999.
Anak, Tuhan dan Agama. Yogyakarta : Putra Langit.
Hurlock, E.B.,
1973. Adolescent Development. Tokyo: McGraw-Hill, Kogakhusa Ltd.
Hurlock, E. B.,
1978. Child Development. New York: McMillan Publishing Co. Inc.
Ihromi, T.O
(penyunting), 1999. Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia.
Kazdin, A. E.,
1994. Behavior Modification: in Applied Setting. Monterey,
California: Cole Publishing Comp.
Kerlinger, F. N.,
1996. Asas-asas Penelitian Behavioral. Terj. Landung R.
Simatupang. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Koeswara, E., 1988.
Agresi Manusia. Bandung: PT Eresco.
Lazarus, R.
S.,1976. Pattern of Adjustment. Tokyo: McGraw-Hill
Kogakusha.
Manulang. 1991. Manajemen
Personalia. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Mussen, P.H.
Conger, J.J.&Kagon, J. 1979. Child Development And Personality. New
York: Herper And raw Publishing.
Roediger III, H.
L., Rushton, J. P. Capaldi, E. D., dan Paris, 1984. Psychology. Little
Brown and Company.
Shapiro, L. E.,
1998. Mengajarkan Emotional Intelligence pada Anak. Jakarta:
Gramedia.
Staub, E. 1979. Positive Social Behavior And Morality.
New York: Academic Press.
Steward, A.C.
&Koch, J.B. 1983, Children’s Dvelopment Thought Adolescent. New
York :John Wiley& Sons Inc.
Setyaningsih, D.
N., 1998. Hubungan Antara Kemampuan Mengontrol Diri dengan Kecenderungan
Terlibat Tawuran Pada Remaja. Skripsi (tidak diterbitkan).
Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.
Sudijono, A. 1996. Pengantar
Statistik Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Soemanto, W. 2002. Sekuncup
Ide Operasional I Pendidikan
Wiraswasta. Jakarta: Bumi Aksara.
Suryabrata, S,
1998. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Tendean, Ethny,S.B.
2001, Kecerdasan Ditinjau dari Pola Asuh Orang Tua Demokratis dan Gaya
Kepemimpinan Guru Demokratis dalam Proses Belajar Mengajar. Skripsi
(Tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.
Timomor, A. 1998.
Kecenderungan Otoriter Pola Asuh Orang Tua, Konflik keluarga, dan kecenderungan
Agresivitas Remaja. Tesis (tidak dipublikasikan). Yogyakarta:
Fakultas Psikologi UGM.
Verawati, A., 2001.
Agresivitas Remaja ditinjau dari Jenis Strategi Menghadapi Masalah di Daerah
Pembangunan Pemukiman dan Bukan Daerah Pembangunan Pemukiman. Skripsi (tidak
diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.
Watson, L. D., de
Bortali-Tregerthan, G., dan Frank, J., 1984. Social Psychology: Science
and Application. Illinois: Scott, Foresman and Company.
T.n., 2002, Salah Satu Pelaku pengeroyokan
Siswa SMU Tertangkap, Kedaulatan
Rakyat: Edisi 10 Juli.